SD Sutomo I Medan Dominasi Kompetisi Sains

Sekolah Dasar (SD) Sutomo I Medan selalu mendominasi dan memenangkan kompetisi sains tingkat SD dalam even provinsi, nasional maupun internasional. Prestasi yang diraih itu tidak terlepas dari kerja keras guru dalam mendidik siswa-siswi yang akan menjadi generasi penerus bangsa.

Prestasi yang diraih SD Sutomo I Medan pada Olimpiade Sains Kuark dimulai pada tahun 2007 meraih finalis atas nama Shanty Haryanto, Dixon Verrix, Steven. Tahun 2008 meraih finalis yakni Valwin Siauw, Ricky, Bram Azali, Yansen Hadiputra. Jaswin (Medali Emas), Gilbert Emerson (Honorable Mention).

Pada 2009 Thalia Sebastian (medali peranggu), Catherine Charles dan Jaswin (Finalis). Tahun 2010 Andre Putra Sunarya dan Steven Sebastian (Honorable Mention), Gilbert Emerson, Raymond Rafael Angelee, Vincent Scorsinni dan Albert Angkasa (Finalis), Jaswin (Medali Perak, Tropi Best Theory dan Penghargaan Finalis 3 Tahun berturut-turut).

Berikutnya, pada 2011 Thalia Sebastian, Andre Putra Sunarya, Hubert (Finalis), Juni Fransisca Onggani Winata (Medali Perak). Tahun 2012 Brilliant Stanley, Jefferson Grizzlie (Finalis) dan Andre Putra Sunarya (Honorable Mention). Serta 2013 Juni Fransisca Onggani Winata (Medali Perunggu), Brilliant Stanley (Finalis) dan 2014 Juni Fransisca Onggani Winata (Medali Perunggu), Lydia Gracia, Rio Satria, Kenji Orlando (Finalis) dan Jonathan Willianto (Honorable Mention).

Kemudian, 2015 Juni Fransisca Onggani Winata (Medali Perunggu), Wilsen Chandra Putra (Medali Emas), Brilliant Stanley, Gilbert, Cecilia Congdy, Vincent M Kimlin (Finalis). Tahun 2016 yang akan bertanding di final yakni Cathy Lawrence, Kevin Kosasih, Claudio Carmendo Antonius dan Filbert Leisen.

Kepala Sekolah SD Sutomo I Medan Helen S.Si kepada wartawan, Jumat (27/5) mengatakan di sekolahnya mengadakan Sains Center setiap hari Sabtu untuk siswa-siswi kelas III dengan materi yang diajarkan IPA dan Matematika. “Hari Sabtu siswa kelas III libur, untuk mengisi kekosongan waktu itu mereka belajar IPA dan Matematika di Sains Center yang kita miliki saat ini,” ujarnya.

Hal itu dilakukan untuk memperkaya materi pengetahuannya tentang IPA dengan metode belajar sambil bermain. Teori itu cocok diterapkan apalagi di usia pelajar SD yang masih cenderung ingin bermain. “Banyak teknis yang kita buat, media interaktif, komik, maupun video sehingga siswa tidak merasa bosan. Apalagi pelajaran IPA yang mengharuskan siswa untuk banyak membaca,” jelas Helen.