Johan Arifin: “Perguruan Sutomo Kehilangan Putra Terbaiknya”

HARI sudah larut malam, waktu itu kurang lebih pukul 24.30 WIB, di lantai tiga rumahnya, Johan Arifin berkali muntah-muntah. Tubuhnya sudah mulai terasa lemas. Istrinya kemudian menelepon seorang dokter. Di ujung telepon seberang, dokter menawarkan untuk menjemput  si pasien ke rumahnya. Namun istri Johan Arifin mengatakan tidak perlu. Oleh sopir pribadinya, Johan Arifin lalu dilarikan ke sebuah rumah sakit.  Begitu sampai di rumah sakit, di pintu gerbang rumah sakit, sosok yang sudah lama dikenalnya dengan baik, sudah menunggu di situ: dokter Burhan Samin!

“Itu hal yang tak bisa dilupakan dalam hidup saya. Itu melebihi makna sebuah pertemanan,” tutur Pengawas Yayasan Perguruan Sutomo saat ditemui Sabtu (23/6) di SMA Sutomo Jalan Bintang, Medan. Johan Arifin didampingi Ketua Yayasan Perguruan Sutomo, Erlina, Kepala SMA Sutomo, Khoe Tjok Tjin dan Kepala SD Sutomo periode 1976 – 2006, Miko Halim.
Continue reading “Johan Arifin: “Perguruan Sutomo Kehilangan Putra Terbaiknya””