Johan Arifin: “Perguruan Sutomo Kehilangan Putra Terbaiknya”

HARI sudah larut malam, waktu itu kurang lebih pukul 24.30 WIB, di lantai tiga rumahnya, Johan Arifin berkali muntah-muntah. Tubuhnya sudah mulai terasa lemas. Istrinya kemudian menelepon seorang dokter. Di ujung telepon seberang, dokter menawarkan untuk menjemput  si pasien ke rumahnya. Namun istri Johan Arifin mengatakan tidak perlu. Oleh sopir pribadinya, Johan Arifin lalu dilarikan ke sebuah rumah sakit.  Begitu sampai di rumah sakit, di pintu gerbang rumah sakit, sosok yang sudah lama dikenalnya dengan baik, sudah menunggu di situ: dokter Burhan Samin!

“Itu hal yang tak bisa dilupakan dalam hidup saya. Itu melebihi makna sebuah pertemanan,” tutur Pengawas Yayasan Perguruan Sutomo saat ditemui Sabtu (23/6) di SMA Sutomo Jalan Bintang, Medan. Johan Arifin didampingi Ketua Yayasan Perguruan Sutomo, Erlina, Kepala SMA Sutomo, Khoe Tjok Tjin dan Kepala SD Sutomo periode 1976 – 2006, Miko Halim.

Begitulah, jika dikumpulkan, puluhan, mungkin juga ratusan kisah seperti ini dengan mudah akan kita dengar dari sahabat, guru, karyawan, mantan siswa dan pasien yang pernah merasakan keramahan, kehangatan, rasa kemanusiaan, dedikasi dan ‘tangan dingin’ Burhan Samin sebagai seorang dokter. Suami dari dr. Erna, ayah dua anak itu, telah mendedikasikan 35 tahun lebih ilmu kedokterannya semata demi tujuan kemanusiaan.

Ia lebih mendahulukan untuk menolong sesama manusia yang tengah berada dalam kelemahan fisik. Soal materi, ia menomorduakan.

Pejuang kemanusiaan

Kisah dokter Burhan Samin menolak biaya pengobatan pasien, tak memasukkan honor sebagai dokter rawat inap, bahkan tak jarang  membayar ongkos perawatan pasien di rumah sakit, bukan kisah baru. Ia memang dokter pejuang kemanusiaan yang langka. Pratiknya di Jalan Wahidin laris manis. Ia juga aktif di berbagai organisasi sosial. Sebut seperti Yayasan Sosial Angsapura dan Lions Club Medan Angsapura. Ia juga Lektor Kepala di Fakultas Kedokteran UMI Medan.  Meski begitu ia tetap dikenal sebagai sosok  yang ramah dan rendah hati.

“Di sekolah kami, jika guru dan karyawan tahu bahwa beliau ada jadwal ke sekolah, kami semua seolah jadi  mau menyambut kedatangannya,” tutur Johan Arifin. Semua itu imbas dari sikapnya yang hangat dan ramah kepada siapa saja yang dijumpai di sekolah. Sekalipun ia seorang dokter senior, ia tak segan untuk menyapa koleganya lebih dulu. Tanpa membedakan senioritas. Ia bertegur sapa dan tak jarang menepuk-nepuk bahu orang yang disapa, simbol  kehangatan persahabatan yang ditebarnya.

Meski dikenal sebagai dokter sosial, hal itu tak membuat dokter Burhan Samin hidup berkekurangan. Menurut Erlina, semua itu bisa jadi berhubungan  kebaikan yang ditebar kepada sesamanya. Atau dalam keyakinan religiusnya, berkat  karma baik yang ditebarkan selama ini, ujar Ketua Yayasan Perguruan Sutomo itu.

Guru biologi dan P3K

Di SMA Sutomo sendiri, dokter Burhan adalah alumni tahun 1972. Sembari kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Methodist Indonesia (UMI) Medan, sejak 1977 – 1984,  ia menjadi guru Biologi di SMA Sutomo 1, Medan.

Khoe Tjok Tjin,  kini Kepala SMA Sutomo 1, adalah siswa yang pernah diajarnya. “Kalau menerangkan pelajaran biologi, siswa mudah mencernanya,” tuturnya. Saat menerangkan fungsi tulang  manusia misalnya, dokter Burhan Samin langsung menunjukkan contoh tulang manusia kepada siswa. Saat mengajar juga jarang marah, tutur katanya halus,  banyak memberi bimbingan hidup sehingga banyak siswa yang menyenanginya.

Tahun 1985, dokter Burhan Samin juga  mengajar kegiatan  ekstra kurikuler Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K) di SMA Sutomo 1 dan 2, sekaligus merintis dan menjadikan Klinik P3K sampai menjadi klinik sekolah. Saat jadi klinik, banyak warga yang tinggal di Pulo Brayan berobat ke klinik sekolah.

“Sambil periksa pasien, ia ajak ngobrol pasien dan banyak beri nasehat,” tutur Johan Arifin, alumni Fakultas Sastra USU Medan. Keramahan dokter Burhan Samin membuanya disenangi pasien. Tak heran saat buka praktik di Jalan Wahidin, banyak warga Pulo Brayan banyak berobat ke kliniknya. Jarak yang cukup jauh tak jadi soal. Tahun 1986, Johan Arifin sendiri juga mengajar Bahasa Indonesia dan Administrasi di SMA Sutomo 2. Bersama beberapa guru lain, mereka kerap berdiskusi dengan dokter Burhan Samin.

Banyak hal yang didiskusikan karena minat dokter Burhan Samin tak terbatas soal dunia medis semata. Dokter Burhan Samin adalah orang yang luwes dan luas pergaulannya. Ia tak memilih dan membeda-bedakan orang berdasar suku dan agama.

“Itu sebabnya, ia juga sering mendorong orang Tionghoa Medan agar mengubah mindset lama dalam membangun relasi  dengan warga lain,” kata Johan Arifin. Salah satu usaha yang dirintis dokter Burhan Samin adalah dengan merintis membuat bimbingan tes agar makin banyak lulusan Sutomo diterima di PTN,” tuturnya. Sebagaimana sudah jadi cerita umum, tahun 1980-an, bukan hal mudah bagi siswa  Tionghoa lulusan SMA  diterima di perguruan tinggi negeri (PTN).

Medali emas

Karena itu saat ada siswa SMA Sutomo diterima di PTN, dokter Burhan Samin mengajak beberapa guru lain membuat soal-soal model seleksi penerimaan mahasiswa baru atau Sipenmaru sebelum kini dikenal sebagai UMPTN.

“Ia motor utamanya,” tambah Johan Arifin. Saat itu lembaga bimbingan belajar masuk PTN belum ada.

Berbagai jasa, dedikasi dan pengabdian dokter Burhan Samin membuat pihak Yayasan Perguruan Sutomo memberikan medali emas saat pengabdiannya  mencapai 15 tahun. Perguruan Sutomo mengakui, dokter Burhan Samin, salah seorang alumni SMA Sutomo, telah ikut mengharumkan nama Perguruan Sutomo dengan segala dengan segala sepak terjang dan dedikasinya sebagai dokter dan pendidik.

“Karena itu kami sangat merasa kehilangan begitu mendengar beliau meninggal dalam musibah yang dialaminya pada Minggu, 17 Juni lalu. Ia putra terbaik Perguruan Sutomo,” ujar Johan Arifin, kali ini nada suaranya bergetar, tak lagi mampu menyembunyikan perasaan sedihnya.